Tak Berkategori

Explore Kerinci : My First Trekking to Danau Kaco [Part 1]

Perjalanan kali ini merupakan puncak kontemplasi bagiku. Penuh haru biru kecamuk perasaaan dan asa. Sangat personal, sweet escape, pelarian dari berbagai macam “crazy things in my life”. Aku  bukan seorang petualang. Tidak pernah berniat cari “gara-gara” dengan sesuatu yang baru. Karena itu ketika memutuskan untuk “ok i will go for it” sekejap aku terhenyak, mungkin saat ini alam bawah sadarku sedang berganti wujud menjadi sisiku yang lain. The Rebellion.

Pesawat ke Jambi pukul 11.05 , hingga 21/12/16 03.00 dini hari aku belum packing. Seketika ku menoleh ke arah kedua putriku yang sedang tertidur pulas, mainan figurin paw patrol dan karakter gratisan hadiah dari paket kids meal fast food berserakan di bawah kakiku. Belum berangkat saja aku sudah begitu merindukan mereka. Tawa renyah mereka ketika menyambutku pulang kerja. Gelayutan mereka di punggungku ketika aku solat. Semoga perjalanan ini lancar dan aku bisa bertemu mereka kembali.

Hari pertama di Jambi, kami menginap di Hotel Wiltop, di Jalan Sultan Thaha Jambi. Hotel ini persis berada di pusat perbelanjaan di kota Jambi, bersebelahan dengan WTC Shopping Mall, Pasar Jambi dan Hypermart. Di bagian belakang Hotel ini ada Sungai Batanghari, sungai terbesar dan terpanjang yang membelah Pulau Sumatera. Menikmati view Sungai Batanghari di malam hari sangat menarik, dengan Gentala Arasy Tower dan Bridge yang ketika malam memancarkan lampu-lampu yang beraneka warna. Meski bangunannya sedikit old fashioned,  ukuran kamarnya lumayan luas untuk ukuran Hotel Bintang 3. Bednya juga cukup nyaman, dan breakfastnya lumayan bervariasi. Hanya saja sayang pas saya menginap disana, rasa makanannya agak terlalu asin. Rate semalam disana untuk kamar deluxe twin share Rp 419.000,-. Cukup terjangkau.

20161221_1623561

20161221_1625061
lobby

Hari kedua, Kamis 22/12/2016, pukul 09.00 kami bertolak ke Kerinci dengan Susi Air. Perjalanan ke Kerinci hanya memakan waktu kurleb satu jam. Saat ini, penerbangan dari Jambi ke Kerinci hanya tiga kali dalam seminggu, hari Senin, Kamis dan Sabtu. Biaya tiket Jambi-Kerinci Rp 440.300,- . Ini pertama kalinya aku naik pesawat berpenumpang kecil, hanya sekitar 15-16 seat. Rasanya sumpah deg-degan banget. Apalagi ketika mau landing, karena melewati lembah dan bukit-bukit, turbulensi ga bisa dihindari. Alhamdulillah bisa landing dengan mulus di landasan Bandara Depati Parbo, Kab. Kerinci.

Sesampai di Kerinci, kita dijemput oleh mobil sewaan travel. Perharinya biayanya Rp600.000,-. Perjalanan selanjutnya menuju Desa Lempur, Kecamatan Gunung Raya, kurang lebih satu setengah jam, untuk melanjutkan trekking ke Danau Kaco. Cuaca di Kerinci saat itu cukup bersahabat, dengan gerimis kecil yang tipis-tipis, dan sepanjang perjalanan ke Lempur kita disuguhi panorama pedesaan, sawah yang menguning dan barisan perbukitan yang sangat indah.

Sesampainya di desa Lempur, kita ke basecamp guide dulu. Kali ini kita menggunakan jasa guide dari Explore Kerinci. Guide yang akan menemani kita namanya Mas Irwan, Beliau adalah guide yang sudah berpengalaman dan sudah sering menemani tamu-tamu dari wisatawan mancanegara yang ingin berpetualang menjelajahi wisata alam di Kerinci.

Perjalanan ke Danau Kaco harus melewati Hutan Adat dan Hutan Taman Nasional Kerinci Seblat, dengan kisaran waktu 3-4 jam. Karena hutan ini adalah hutan hujan tropis, mantel/jas hujan adalah syarat utama. Dan benar saja, belum juga memulai masuk ke hutan, kami sudah disambut dengan gerimis kecil. Kami mulai trekking pada pukul 12.30 WIB, dengan memasuki hutan adat terlebih dahulu. Hutan Adat merupakan pengelolaan kawasan hutan yang dilakukan oleh masyarakat adat, berdasarkan nilai-nilai kearifan adat. Perjalanan diawali dengan kontur jalan yang berbatu-batu dan sedikit menanjak. Mas Irwan sebelumnya mewanti-wanti dikarenakan musim hujan, banyak pohon  dan bambu yang tumbang di jalur trekking nanti. So, the day is going to be rough.

Sepanjang perjalanan, Mas Irwan banyak menjelaskan tentang hutan adat, tanaman medang lado (merica hitam) yang berbau wangi, tanaman (lupa namanya apa..asli ga fokus hhehe) yang berbau seperti sereh, hewan-hewan yang ada di hutan sepeti katak hijau, musang, harimau dan banyak pengetahuan lainnya. Yang sebenarnya sangat menarik siy, tapi karena aku sibuk mengatur napas dan mengatur urat nyali hehehe jadi penjelasannya ga banyak yang keinget (hahahaha…maaf Mas Irwan)

Medannya jangan ditanya deh..hiks..hiks..Antara udah kepalang tanggung masuk hutan sama kepengen bangett lihat penampakan asli danau kaco nya, jadi ungkapan “maju terus pantang mundur” itu bener-bener bersemayam di dada. Hahhaha..Bayangin aja mulai dari hujan yang terus menerus turun, lumpur yang mulai menebal, menyebrangi sungai, menaiki dahan-dahan yang tumbang, hutan bambu yang porak poranda karena diterpa angin, di benak yang ada hanya keinginan untuk segera sampai di Danau Kaco dan mencelupkan kaki ke dalam danau yang entah sudah berapa banyak pacet yang menempel.

And Finally..the legendary Danau Kaco, sodara-sodara. Danaunya memang ga seberapa luas. Tapi keindahannya ga dapat dilukiskan dengan kata-kata. Airnya yang bening kebiruan tuh baguuuss bangett. Bening. Dan benar seperti namanya. Seperti cermin. Seketika semua penat, lelah, gundah gulana hilang. Hanya memandangi indahnya danau membuat hati yang bergejolak menjadi adem. Nyesss.

Setelah puas mandi-mandi (baca : berendem), menyelonjorkan kaki, sholat dan maen maen air di Danau Kaco, akhirnya kita terpaksa harus melanjutkan perjalanan pulang. Sumpah ga puas banget cuma bentar di Danau Kaco, tapi sudah sore dan suasana semakin gelap. Karena takut kemalaman di jalan, akhirnya cuss kita kembali haru menempuh perjalanan sekitaran 4 jaman itu. Kalau perjalanan berangkatnya susah banget, perjalanan pulangnya dobel susahnyaa. Dengan ditambah lumpur yang semakin dalam, langit yang mulai gelap, hujan yang tak kunjung berhenti, sudah ga kehitung deh udah berapa kali aku terjerembab jatuh di kubangan lumpur. Kelelahan di lutut sudah mulai terasa, dengan dipandu oleh keheningan malam dan bunyi-bunyi suara binatang malam yang seakan ingin menyapa, jalan dan jalan terus sambil sesekali melewati dahan pohon yang tumbang dan meloncati selokan-selokan yang terbangun alami oleh alam. Bener-bener pengalaman yang menggugah batin secara spiritual dimana kita hanya bisa bergantung pada alam semesta dan berharap perlindungan dari Allah. Yang dipikirin saat itu hanya bagaimana caranya bisa segera keluar dari hutan, mandi, ketemu kasur dan selonjoor. Hahaha.

Akhirnya kita keluar hutan Pukul 21.00. Setelah puas mandi dan membersihkan diri di Basecamp Guide di Lempur, kita melanjutkan perjalanan lagi dengan menggunakan mobil travel ke Perkebunan Teh Kayu Aro. Yang akan dijelaskan panjang lebar di postingan selanjutnya ya. Yang jelas ga kalah menariknya dengan Danau Kaco. See You!!

6 thoughts on “Explore Kerinci : My First Trekking to Danau Kaco [Part 1]

    1. worthy bgt mbaa…iya smp sekarang aja aku msh belum bisa move on mba hehehhe..cobalah ke danau kaco mba..kalau butuh info2 no telp yg bs dihubungi jgn sungkan tanya2 yaa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *